Analsis pekerjaan adalah prosedur yang anda lalui untuk menentukan tanggung jawab posisi-posisi tersebut dan karakteristik orang-orang yang bekerja untuk posisi-posisi tersebut. Analisis pekerjaan memberikan informasi yang digunakan untuk membuat deskripsi pekerjaan (daftar pekerjaan ) dan spesifikasi pekerjaan (jenis orang yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut).
Analisis pekerjaan adalah prosedur untuk menentukan tanggung jawab dan persyaratan keterampilan yang dibutuhkan dari pekerjaan dan jenis orang yang harus dipekerjakan untuk pekerjaan tersebut. Analisis pekerjaan menentukan tanggung jawab posisi tersebut, karakteristik orang-orang yang bekerja untuk posisi tersebut dan memberikan informasi yang digunakan untuk membuat deskripsi pekerjaan (daftar tentang pekerjaan itu) dan spesifikasi pekerjaan (jenis orang yang harus dipekerjakan untuk pekerjaan tersebut
Yang dimaksud dengan analisis pekerjaan adalah proses pengumpulan informasi mengenai suatu pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pekerja yang dilaksanakan dengan cara mengamati atau mengadakan interview terhadap pekerja dengan bukti-bukti yang benar dari supervisor.
Analisis pekerjaan ini menghasilkan suatu daftar uraian pekerjaan pernyataan tertulis mengenai kewajiban pekerja yang juga mencakup standar kualifikasi, tingkat pendidikan, pengalaman minimal yang diperlukan serta karakter pekerjaan itu sendiri.
Selanjutnya analisis pekerjaan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan bentuk pekerjaan dan orang yang dibutuhkan pada pekerjaan tersebut.Terdapat 12 macam tujuan diadakannya analisis pekerjaan, diantaranya adalah:
- Job description,
- Job classification,
- Job evaluation,
- Job design restructuring,
- Personnel requirement,
- Performance appraisal,
- Worker training,
- Worker mobility,
- Efficiency,
- Safety,
- Human resource planning,
- Legal requirements.
1. Job description, yang berisi informasi pengeidentifikasian pekerjaan, riwayat pekerjaan, kewajiban-kewajiban pekerjaan, dan pertanggungjawaban, spesifikasi pekerjaan atau informasi mengenai standar- standar pekerjaan.
2. Job classification, penyusunan pekerjaan-pekerjaan ke dalam klas-klas, kelompok-kelompok, atau jenis-jenis berdasarkan rencana sistematika tertentu. Rencana sistematika tradisional biasanya didasarkan pada garis kewenangan organisasi, isi tugas/pekerjaan yang didasrkan pada teknologi, dan tugas/pekerjaan ini pada gilirannya didasarkan pada perilaku manusia.
3. Job evaluation, suatu prosedur pengklasifikasian pekerjaan berdasarkan kegunaan masing-masing di dalam organisasi dan dalam pasar tenaga kerja luar yang terkait.
4. Job desing instructuring, meliputi usaha-usaha untuk mengalokasi dan merestrukturalisasikan kegiatan-kegiatan pekerjaan ke dalam berbagai kelompok.
5. Personal requirement/spesifications, berupa penyusunan persyaratan-persyaratan atau spesifikasi-spesifikasi tertentu bagi suatu pekerjaan, seperti pengetahuan(knowledge), ketrampilan(skills), ketangkasan(aptitudes), sifat-sifat dan ciri-ciri(attributes and traits) yang diperlukan bagi keberhasilan pelaksanaan suatu pekerjaan.
6. Performance appraisal, tujuan penting daripada penilaian performansi ini adalah dengan maksud untuk mempengaruhi dari para pekerja melalui keputusan-keputusan administrasi, seperti promosi, pemberhentian sementara (lay off), pemindahan(transfer), kenaikan gaji, memberi informasi kepada para pekerja tentang kemampuan-kemampuan dan kekurangan-kekurangan yang berkaitan dengan pekerjaannya masing-masing.
7. Worker training, untuk tujuan-tujuan pelatihan.
8. Worker mobility, , untuk tujuan mobilitas pekerja(karir), yaitu dinamika masuk-keluarnya seseorang dalam posisi-posisi, pekerjaan-pekerjaan, dan okupasi-okupasi tertentu.
9. Efficiency, ini mencakup penggabungan proses kerja yang optimal dan rancangan keamanan dari peralatan dan fasilitas fisik lainnya dengan referensi tertentu pada kegiatan-kegiatan kerja, termasuk prosedu-prosedur kerja, susunan kerja dan standar-standar kerja.
10. Safety, sama dengan efisiensi, tapi perhatiannya lebih diarahkan pada identifikasi dan peniadaan perilaku-perilaku kerja yang tidak aman, kondisi-kondisi lingkungan.
11. Human resource planning, ini meliputi kegiatan-kegiatan antisipatif dan reaktif melalui suatu organisasi untuk memastikan organisasi tersebut memiliki dan akan terus memiliki jumlah dan macam orang pada tempat yang tepat, waktu yang tepat, dll.
12. Legal/quasi legal requirements, aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan lainnya yang berkaitan dengan organisasi.
Analisis pekerjaan terdiri dari Job
Descriptions yang berisikan Task, Duty, Responsibility
dan Job Spesification yang berisikan Knowledge, Skill,
Competency.
Adapun manfaat analisis pekerjaan menurut
Dessler (2003;117) adalah untuk keprluan 1. Recruitment & Seleksi. 2.
Kompensasi. 3. Penilaian Prestasi. 4. Pelatihan.
D. Tahap-tahap analisis
Dalam analisis pekerjaan terdapat dua langkah utama yang harus dilakukan, yaitu (1) penentuan tugas-tugas utama, kegiatan-kegiatan, perilaku-perilaku atau kewajiban-kewajibanyang akan dilaksanakan dalam pekerjaan. (2) penetapan pengetahuan (knowledge), kemampuan-kemampuan (abilities), kecakapan-kecakapan (skills), dan beberapa karakteristik lainnya (faktor-faktor kepribadian, sikap, ketangkasan atau karakteristik fisik dan mental yang di perlukan bagi pekerjaan) yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tugas-tugas.
E. Jenis Analisis Pekerjaan
1. Analisis Pekerjaan Tradisional (Traditional Job Analysis)
Model tradisional ini hanya mencari informasi sekitar tiga aspek, antara lain tanggung jawab yang merinci unit organisasi kepada mana suatu kedudukan harus bertanggung jawab, harus tunduk kepada pengarahan dan bagian pelaksanaan, skewajiban-kewajiban umum dari seseorang yang sedang memegang suatu kedudukan, kualifikasi-kualifikasi minimal yang diterima sebagai kelayakan.
2. Analisis Pekerjaan yang beroreientasi hasil (Ersult-oriented Jobs Description atau RODs)
Analisis pekerjaan yang berorientasikan hasil ini merupakan suatu kehidupan kecil di dalam program-oriented budget yang bermanfaat bagi produktivitas.
Menggunakan
Tiga Metode Pengumpulan Informasi Analisis
Pekerjaan
dengan Cara Wawancara, Kuesioner, dan Observasi.
Ada beragam cara untuk
mengumpulkan informasi mengenai kawajiban, tanggung jawab, dan aktivitas
dari pekerjaan, dan kita akan membahas hal yang paling penting dalam bagian ini. Dalam praktiknya, Anda dapat menggunakan salah satu dari
teknik-teknik tersebut, atau dapat mengkombinasikan
teknik-teknik yang paling cocok dengan tujuan Anda. Jadi,
wawancara mungkin sesuai untuk membuat deskripsi pekerjaan, sedangkan kuesioner
analisis posisi lebih sesuai untuk mengukur nilai kompensasi
dari pekerjaan.
Melakukan analisis pekerjaan biasanya
melibatkan gabungan dari seorang spesialis SDM, pegawai yang bersangkutan, dan
penyelia pegawai tersebut. Spesialis SDM (barangkali
seorang manajer SDM, analisi pekerjaan, atau konsultan) dapat mengamati dan
menanalisis pekerjaan itu, kemudian membuat deskripsi dan
spesifikasi pekerjaan. Penyelia dan pekerja dapat mengisi
kuesioner yang berisi aktivitas para bawahannya.
Dalam praktik, perusahaan biasanya
mengumpulkan data analisis pekerjaan dari beragam “ahli masalah subjek” (kebanyakan
pemegang jabatan pekerjaan) dengan menggunakan kuesioner
dan wawancara. Kemudian, mereka
membuat rata-rata data dari beberapa karyawan untuk
masing-masing dari beberapa tugas tertentu. Masalahnya adalah karyawan yang memiliki jabatan pekerjaan yang sama tetapi bekerja
dalam Departemen berbeda dapat mengalami tekanan yang
sangat berbeda. Karenanya, hanya dengan menambahkan dan membuat
rata-rata jumlah waktu yang katakanlah, dibutuhkan asisten SDM
untuk “mewawancarai kandidat” dapat berakhir dengan hasil yang menyesatkan.
Intinya adalah Anda harus memahami konteks departemental
pekerjaan itu: Cara seseorang menghabiskan waktunya
dengan jabatan pekerjaan tertentu tidaklah selalu sama dari Departemen yang satu dengan yang lain. Wawancara kuesioner, observasi
dan diary/log adalah metode yang paling populer untuk
mengumpulkan data analisis pekerjan. Mereka
memeberikan informasi realisitis
tentang apa yang sebenarnya dilakukan pemegang jabatan pekerjan
itu. Para manajer menggunakannya untuk
mengembangkan deskripsi pekerjaan dan spesifikasi
pekerjaan.
WAWANCARA
Para manajer menggunakan tiga
jenis wawancara untuk mengumpulkan data analisis pekerjaan yaitu wawancara
individual dengan setiap karyawan, wawancara kelompok dengan kelompok karyawan yang memiliki pekerjaan yang sama dan wawancara
penyelia dengan satu atau dengan banyak penyelia yang
mengetahui pekerjaan tersebut. Jenis wawancara apapun
yang Anda gunakan ada harus yakin bahwa orang yang diwawancarai memahami
sepenuhnya alasan wawancara itu. Karena ada kecenderungan bahwa
wawancara demikian adalah bentuk dari penilaianbenar atau
salah yang menjadi evaluasi efisiensi.
KUESIONER
Baik struktur maupun tidak, kuesioner
memiliki pro dan kontra. Kuesioner adalah cara yang tepat dan efisien untuk
memperoleh informasi dari sejumlah besar karyawan, hal ini
lebih murah dari mewawancarai lapisan pekerja. Namun, mengembangkan kuesioner
mengujinya
dapat menjadi mahal dan memakan waktu.
OBSERVASI
Observasi langsung sangat berguna,
terutama untuk pekerjaan yang terdiri atas aktivitas fisik yang dapat diamati
sebagai contoh, pekerjaan perakitan dan petugas akunting. Disisi lain observasi umumnya tidak sesuai saat pekerjaan meminta
banyak aktivitas mental (pengacara, insinyur
perancangan). Juga tidak berguna bila karyawan hanya sekali-kali terlibat dalam aktivitas penting, seperti seorang juru rawat yang
menangani gawat darurat. Dan reaktivitas pekerja mengubah
apa yang biasanya dilakukan karena Anda mengawasi juga dapat
menjadi masalah. Para manajer sering menggunakan
observasi langsung dan mewawancarai juga. Satu pendekatan
adalah mengamati pekerja pada pekerjaan itu selama siklus
kerja penuh. (Siklus adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerja
itu; dapat satu menit untuk pekerja lini-perakitan atau
satu jam, satu hari, atau lebih lama pekerjaan yang lebih
rumi
FUNGSI PEKERJAAN
Fungsi pekerjaan adalah kewajiban
pekerjaan yang harus mampu dilakukan oleh karyawan, atau tanpa akomodasi yang
wajar. Fungsi pekerjaan penting karena merupakan alasan
adanya posisi itu atau saat fungsi khusus sehingga perusahaan mempekerjakan
orang tersebut untuk melakukan keahlian atau kemampuan
pekerjaannya untuk melakukan fungsi khusus tersebut. Bila
orang cacat tidak dapat melakukan pekerjaan itu seperti yang saat ini telah terstruktur.
Informasi yang diperoleh dari analisa jabatan tersebut dapat digunaan untuk
menentukan karakteristik apa yang harus dimiliki seseorang yang akan menduduki
jabatan tertentu. Adapun hasil dari analisa jabatan tersebut dapat berupa
deskripsi jabatan (job description) dan spesifikasi jabatan (job
specification). Deskripsi jabatan adalah suatu pernyataan tertulis yang
menguraikan fungsi, tugas-tugas, tanggung jawab, wewenang, kondisi kerja dan
aspek-aspek pekerjaan tertentu lainnya. Sedangkan spesifikasi jabatan merupakan
pernyataan tertulis yang menunjukkan siapa yang akan melakukan pekerjaan itu
dan persyaratan yang diperlukan terutama menyangkut keterampilan, pengetahuan dan
kemampuan individu.
A. MANFAAT
ANALISIS JABATAN
Kegiatan-kegiatan
yang dilakukan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia sangat bergantung pada
informasi yang diperoleh dari analisis jabatan. Oleh karena itu, informasi dari
analisis jabatan dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Untuk keperluan penarikan dan seleksi.
Penarikan dan
seleksi karyawan dapat dilaksanakan apabila manajemen sudah mendapatkan
gambaran yang jelas tentang jenis dan karakteristik pekerjaaan. Dengan memahami
karakteristik pekerjaan maka akan dapat ditetapkan siapa personel yang tepat
untuk memangku jaabatan tertentu tersebut.
2. Untuk
keperluan kompensasi.
Besarnya gaji
atau upah karyawan bergantung pada pekerjaan apa yang mereka lakukan dalam
organisasi. Bagi karyawan yang memiliki keterampilan dan pendidikan yang tinggi
tentu akan memperoleh gaji yang lebih besar disbanding dengan karyawan yang
hanya memiliki keterampilan dan pendidikan terbatas.
3. Untuk
keperluan penilaian kinerja.
Dalam analisis jabatan, setiap pekerjaan ditetapkan standar-standar
kinerja. Untuk mengetahui apakah kaaryawan berprestasi atau tidak, manajer
cukup membanding antara kinerja actual dengan kinerja standar yang ditetapkan.
4. Untuk
keperluan pelatihan.
Apabila
karyawan yang diterima belum cukup keterampilannya untuk melaksakan tugas, maka
manajer dapat memutuskan untuk segera memberikan pelatihan tambahan.
Ditambahkan
oleh Tohardi (2002), analisis jabatan yang menghasilkan Deskripsi Jabatan daan
Spesifikasi Jabatan dapat memberikan manfaaat berikut:
1. Promosi dan transfer. Informasi dalam analisis
jabatan sangat tepat untuk merencanakan posisi karyawan di masa depan
berdasarkan penilaian atas keterampilan, pengetahuan serta bakatnya.
2. Penambahan organisasi. Jika terdapat kekurangan
dalam organisasi, maka informasi darianalisa jabatan dapat digunakan untuk
melakukan pembenahan.
3.
Orientasi. Khusus untuk karyawan
baru, pengenalan dan penguasaan terhadap pekerjaan sangat penting agar tidak
terjadi kesalahan dalam menjalankan pekerjaannya.
4.
Memperbaiki aliran kerja.
Begitu
pentingnya analisis jabatan ini sehingga mengharuskan organisasi untuk tetap
melakukan uraian terhadap jabatan dalam organisasi dapat berjalan dengan
lancar. Terdapat enam alasan penting mengapa analisa jabatan
sangat diperlukan dalam sebuah organisasi :
1.
Organisasi
baru dibentuk. Uraian jabatan pada hakikatnya sama pentingnya dengan
alasan mengapa organisasi itu dibentuk. Setiap organisasi yang baru muncul atau
dibentuk tentu akan memiliki jenis pekerjaan yang berbeda dengan organisasi
lain yang telah terbentuk. Karena organisasi itu baru dibentuk, maka penting sekali
untuk menjelaskan atau menguraikan pekerjaan-pekerjaan apa saja yang akan
dilakukannya
2.
Pembentukan suatu pekerjaan
baru.
Alasan ini mengadu pada munculnya jenis pekerjaan yang baru dan sama sekali
tidak ada hubungannya dengan pekerjaan sebelumnya. Bila organisasi yang baru
dibentuk tidak memunculkan jenis pekerjaan yang baru, maka uraian jabatan tidak
perlu dilakukan.
3.
Karyawan tidak paham
terhadap pekerjaannya.
Ada sebagian
karyawan, terutama yang baru diterima tidak memahami apa yang akan
dikerjakannya nanti. Walaupun dalam iklan lowongan pekerjaan mereka sudah
tergambarkan jenis pekerjaan apa yang dibutuhkan. Uraian pekerjaan
sangat penting untuk menyamakan pandangan terhadap jenis pekerjaaan yang akan
dilakukan.
4.
Tumpang
tindih dan konflik. Antara karyawan yang satu dengan yang lainnya seringkali
melakukan pekerjaan yang sama meskipun mereka berada dalam bidang berbeda.
Kondisi ini dapat mengakibatkan salah paham atau konflik terutama dalam hal
pertanggungjawaban atas pekerjaan. Hal ini tentu disebakan oleh belum jelasnya
pekerjaan masing-masing karyawan.
5.
Arus
kerja tidak lancar. Dalam arus kerja, pekerjaan yang satu tentu berhubungan
dengan pekerjaan yang lainnya. Apabila satu pekerjaan belum memahami keana
pekerjaan itu diteruskan maka kondisi itu dapat mengakibatkan terhentinya
proses pada pekerjaan yang lain.
6.
Sistem penggajian tidak
konsisten.
Uraian jabatan akan memberikan batasan-batasan terhadap pekerjaaan yang akan
dilakukan. Semakin banyak jenis pekerjaan yang dilakukan tentu akan semakin
besar kompensasi (gaji) yang diperoleh. Ketidakjelasan terhadap jenis pekerjaan
yang dilakukann akan menyebabkan tidak adanya konsistensi dalam hal pemberian
imbalan gaji.
B. PROSES
ANALISA JABATAN
Mathis and
Jackson (2000), mengembangkan lima
tahapan dalam proses analisa jabatan yang harus diadakan dengan suatu cara yang
efektif yaitu:
1. Planning
the Job Analysis
Sebelum
mengumpulkan data dari para manajer dan karyawan, adalah penting untuk
melakukan proses perencanaan terhadap analisis jabatan. Permasalahan utama
dalam perencanaan analisis pekerjaan adalah menjawab dan mengidentifikasi
sasaran dan analisis pekerjaan itu. Selanjutnya perencana meminta persetujuan
dan dukungan dari manajemen puncak untuk menghindari munculnya keresahan dan
resisensi manajerial dan karyawan.
2. Preparing
and Communication the Job Analysis
Pada tahap ini,
pegawai yang akan dilibatkan dalam melakukan analisis pekerjaan dan metode yang
akan digunakan harus diidentifikasi. Apakah mereka yang dilibatkan itu termasuk
kelompok pegawai harian, untuk salah satu divisi, atau seluruh pegawai yang ada
dalam organisasi. Kegiatan lain dalam tahap ini adalah mengkaji dokumentasi
pekerjaan yang ada, baik menyangkut struktur organisasi maupun sumber daya yang
tersedia. Terakhir adalah mengkomunikasikan proses kepada para manajer dan
pegawai untuk menghindari keresahan tadi.
3. Conducting
the Job Analysis
Pada tahap ini analisis sudah dapat dilakukan. Berbagai data yang
diperlukan dikumpulkan melalui sebuah angket yang disertai dengan sebuah surat
yang menjelaskan proses dan instruksi untuk pengisian dan mengembalikan angket
analisis pekerjaan itu. Setelah data terkumpul, kegiatan berikutnya adalah
melakukan pemilahan (sortir) menurut kelompok atau unit-unit. Bila perlu untuk mencocokan
data perlu digunakan wawancara atau pertanyaan tambahan.
4. Developing
Job Descriptions and Job Specifications
Apabila data
yang dikumpulkan sudah sesuai, maka selanjutnya menyiapkan draft uraian
pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan. Begitu draft tersebut rampung diisi,
selanjutnya ditinjau ulang oleh manajer. Setelah selesai ditinjau oleh manajer,
uraian pekerjaan kemudian didistribusikan oelh bagian SDM ke para manajer,
supervisor, dsn pegawai.
5. Maintaining
and Updating Job Description and Job Specification
Begitu uraian
pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan telah selesai dan ditinjau ulang oleh semua
individu yang sesuai, sebuah system harus dikembangkan untuk menjaga
keakuratannya. Satu cara efekitf untuk menjamin terjadinya tinjauan ulang yang
akurat adalah menggunakan uraian pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan dalam
aktivitas SDM lainnya. Misalnya, setiap kali terjadi kekosongan, uraian dan
spesifikasi pekerjaan harus ditinjau ulang dan direvisi secara tepat sebelum
kegiatan perekrutan dan seleksi dimulai.
C. METODE
ANALISIS JABATAN
Untuk
memperolah informasi analisis pekerjaan dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Metode yang umum digunakan dalam mengumpulkan informasi adalah observasi,
wawancara, dan angket.
1. Metode
Observasi
Metode
observasi adalah metode yang digunakan dalam mengumpulkan informasi dengan
mengamati individu yang melakukan pekerjaan itu dan mencatatnya untuk
menguraikan tugas dan kewajiban yang dilakukannya. Metode observasi sangat
tepat jika dilakukan pada jenis pekerjaan yang bersifat pengulangan. Penggunaan
metode observasi memungkinkan analisis dilakukan dekat dengan suasana pekerjaan
dilapangan. Walaupun sifatnya pengamatan, namun tidak seharusnya analis
mengamati secara kontinyu perkembangan dari waktu ke waktu. Penggunaan work
sampling dan employee diary/log.
2. Metode
Wawancara
Pekerja
diseleksi dan diwawancara secara langsung ditempat pekerjaan meraka atau mereka
yang terkait langsung dengan pekerjaan yang dianalisis. Tiga jenis wawancara
dapat digunakan untuk mengumpulkan data analisis jabatan, yaitu wawancara
individual, wawancara kelompok, dan wawancara penyelia (Dessler : 1997). Dalam
beberapa keadaan, seperti pekerjaan yang diarahkan oleh tim, dapat juga
digunakan wawancara kelompok. Salah satu kelemahan metode wawancara adalah
sangat memakan waktu, khususnya jika pewawancara berbicara dengan dua atau tiga
pegawai yang melakukan setiap pekerjaan.
3. Metode
Angket
Dengan
mengunakan angket, yang bersangkutan diminta untuk memberikan data-data
mengenai jabatannya dangan kata-kata sendiri. Analis meminta karyawan mengisi
kuisioner untuk menggambarkan tugas-tugas yang berkaitan dengan jabatan dan
tanggung jawab mereka. Keuntungan utama dari metode kuisioner angket adalah
informasi atas sejumlah pekerjaan dapat dikumpulkan secara murah dan dalam
waktu yang relative singkat. Sebaliknya, metode angket memerlukan waktu yang
lama untuk menguji kuisioner tersebut.
D. DISKRIPSI
DAN SPESIFIKASI JABATAN
Berdasarkan
keterangan yang diperoleh dari hasil analisa jabatan dapat disusun deskripsi
jabatan dan spesifikasi jabatan (job description and job specification). Sebuah
deskripsi jabatan merupakan satu pertanyaan tertulis tentang apa yang
sesungguhnya dilakukan pemegang jabatan, bagaimana dia melakukannya, dan dalam
kondisi apakah pekerjaan itu dijalankan.
Deskripsi
jabatan bukan sekedar menjelaskan tentang suatu jabatan, akan tetapi juga
menjelaskan lebih lanjut tentang tugas-tugasnya, tanggung jawabnya, wewenang
dan sebagainya. Dengan demikian, diharapkan setiap karyawan/pegawai yang
memangku jabatan tersebut akan memahami batas-batas antara lain dari
tugas-tugas, tanggung jawab serta wewenangnya. Hal ini tentu untuk menghindari
terjadinya overlapping antara jabatan yang satu dengan jabatan yang lainnya.
Agar deskripsi
jabatan yang dibuat dapat merupakan landasan atau pedoman pelaksanaan tugas
secara efektif dan efisien, maka deskripsi jabatan yang dibuat haruslah
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi penetapan tugas-tugas antara jabatan
yang satu dengan jabatan yang lain dapat menimbulkan kesimpangsiuran atau
overlapping. Oleh karena itu, maka penyusunan deskripsi jabatan untuk suatu
jabatan tertentu tidak lepas dari format standar yang harus dipenuhi.
Walaupun tidak
terdapat format standar yang baku
dan berlaku untuk semua organisasi, namun secara umum deskripsi jabatan memuat
hal-hal sebagai berikut :
a.
Identifikasi
jabatan.
Bagian
identifikasi jabatan memuat informasi-informasi tentang nama jabatan, kode
jabatan, tanggal analisis, penyusun, dan dalam departemen apa.
b.
Ringkasan
jabatan.
Ringkasan
jabatan hendaknya menggambarkan sifat umum dari jabatan, yaitu berupa fungsi
dan kegiatan utamanya.
c.
Hubungan,
tanggung jawab, dan kewajiban.
Bagian ini
memperlihatkan hubungan pemegang jabatan dengan pihak atau bagian lain, baik di
dalam organisasi maupun luar organisasi. Batas-batas tanggung jawab serta
kewajiban utama jabatan itu juga perlu dijelaskan.
d.
Wewenang
dari pemegang jabatan.
Bagian ini
menentukan batas-batas wewenag pemegang jabatan, termasuk wewenang pengambilan
keputusannya dan batas-batas penganggarannya.
e.
Standar
kinerja.
Bagian ini
menetapkan standar-standar yang diharapkan bisa dicapai oleh karywan pada
masing-masing tugas dan tanggung jawab dari deskripsi jabatan.
f.
Kondisi
kerja.
Deskripsi
jabatan juga akan merangkum kondisi kerja umum yang tercakup pada jabatan.
Misalnya, masalah kebisingan, kondisi bahaya, dan suhu udara dalam ruang
pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar